Dilema! Lebih Taat Pada Siapa, Suami atau Orang Tua?

Sebagai seorang wanita yang sudah menikah, mungkin Anda pernah dihadapkan pada sebuah dilema yang jika dipilih seperti makan buah simalakama. Harus lebih taat pada siapa, suami atau orang tua?

Jika taat kepada suami, Anda takut dibilang sebagai anak durhaka. Namun sebaliknya jika lebih taat kepada orang tua, Anda khawatir dicap sebagai istri yang tak patuh pada suami.

Lantas, sebagai wanita yang sudah bersuami, bagaimana baiknya? Nah, semoga saja penjelasan ini bisa menjadi solusi untuk Anda para istri agar tak selalu dalam posisi dilema dan tahu harus berbuat apa jika berada dalam posisi yang mengharuskan Anda memilih taat kepada suami atau orang tua.


Dikutip dari Republika, diriwayatkan Anas bin Malik RA, dikisahkan-sebagian ahli hadist menyebut sanadnya lemak, ketika sahabat pergi untuk berjihad, ia meminta istrinya agar tak keluar rumah sampai ia pulang. Namun di saat bersamaan, ayah sang istri sedang sakit. Karena sudah terikat janji taat pada perintah suami, sang istri tak berani menjenguk ayahnya yang sedang sakit.

Si istri lantas mengutus seseorang untuk menanyakan perihal kondisinya itu kepada Rasulullah Muhammad SAW. Rasulullah menjawab, "Taatlah pada suamimu." Lebih malang lagi, sampai ayahnya menumui ajal, si istri tadi tak juga bisa memberikan penghormatan terakhir untuk ayahnya karena suaminya belum pulang dari berjihad.

Lantas dia bertanya lagi terkait kondisinya tersebut kepada Rasulullah. Beliau pun memberikan jawaban yang sama. Selang beberapa lama, melalui seorang utusan, Rasulullah memberitahukan bahwa Allah telah mengampuni dosa ayahnya berkat ketaatannya pada suami.

Kisah yang dinukil at-Thabrani yang dibilang sanadnya lemah itu setidaknya menggambarkan tentang bagaimana seorang istri bersikap. Harus mendahulukan hak siapa, suami atau orang tua. Pasalnya, jika sudah menikah, 'dialektika' kedua hak itu sering memicu kebingungan dan dilema.

Kitab 'Al Jami' fi Fiqh An Nisaa' oleh Syekh Kamil Muhammad, disebutkan bawah seorang perempuan, sebagaimana seorang pria, punya kewajiban sama, yakni harus berbakti kepada orang tua. Al-Qur'an dan Al Hadits pun menegaskan bahwa seorang anak harus berbakti kapada orang tua.

Bahkan, penghormatan pada ibu dan ayah sangat ditekankan oleh Rasulullah. Terkait hadits tersebut, menurut Imam Nawawi, hadits yang disepakati kesahihannya itu memerintahkan agar senantiasa berbuat baik kepada kaum kerabat. Dan, yang paling utama adalah kepada ibu, lalu bapak, dan kemudian kerabat lainnya.

Namun menurut Syekh Yusuf al Qaradhawi dalam Fatawa Mu'ashirah, memang benar, taat pada orang tua bagi seorang perempuan hukumnya wajib. Tapi, kewajiban itu dibatasi selama yang bersangkutan belum bersuami. Jika sudah bersuami, seorang istri diwajibkan lebih mengutamakan taat pada suami, selama ketaatan itu masih berada pada koridor syariat dan tak melanggar perintah agama.

Oleh karenanya, kedua orang tua tidak diperkenankan melakukan intervensi terhadap kehidupan rumah tangga putrinya, termasuk memberikan perintah apa pun padanya. Setelah menikah, maka saat itu juga anaknya telah memasuki babak baru, bukan lagi di bawah tanggungan orang tua, tapi sudah menjadi tanggung jawab sang suami.

"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kamu wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain." (QS an Nisaa: 34).

Kendati begitu, kewajiban taat pada suami bukan lantas memutuskan tali silaturahim pada orang tua atau malah berlaku durhaka. Dalam hal ini seorang suami juga dituntut untuk mampu menjaga hubungan baik antara istri dan ayah-ibu serta keluarganya. Ikhtiar tersebut bisa dilakukan dengan sangat mudah. Misalnya, menyambung komunikasi via telepon.

"Dan Dia yang men-cipta-kan manusia dari air lalu Dia jadikan manusia itu punya keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhan-mu Maha Kuasa." (QS Al Furqan: 54).

Al Qaradhawi pun menyebutkan beberapa hadits lain yang menguatkan tentang pentingnya mengutamakan taat pada suami dibandingkan orang tua. Salah satunya adalah hadits yang diriwayatkan Al Hakim.


Aisyah sempat bertanya pada Rasulullah mengenai hak siapakah yang harus diutamakan oleh seorang istri? "Hak suaminya," jawab Rasulullah. Lalu, Aisyah bertanya lagi, "Sedangkan bagi suami, hak siapakan yang lebih utama?" Rasulullah menjawab, "Hak ibunya."

Dengan penjelasan ini, semoga Anda, sebagai seorang istri sudah tahu harus bersikap bagaimana jika dihadapkan pada situasi yang mengharuskan lebih taat pada siapa, pada suami atau orang tua. Toh jika jalinan komunikasi Anda baik kepada suami dan orang tua, pasti kondisi tersebut dapat dikomunikasikan dengan gampang. Apalagi kan perkembangan teknologi semakin maju. Nggak cuma telepon, Anda juga bisa memanfaatkan video call untuk berkomunikasi dengan suami dan orang tua.

Comments

Popular posts from this blog

Lezatnya Ubi Goreng Tepung Bikinan Bunda di Rumah, Ternyata Mudah Banget Cara Membuatnya!

Gampang Banget! Ternyata Begini Cara Membuat Tempe Goreng Tepung Renyah dan Tahan Lama

Emm... Sedapnya Rawon Spesial Masakan Khas Jawa Timur, Begin Cara Bikinnya!