Pernikahan 'Zaman Now' Disebut Rentan Perceraian, Intip Yuk Penyebab dan Solusinya!
Sebuah pernikahan pasti dilandasi dengan harapan mendapatkan kehidupan yang lebih bahagia bersama belahan hati. Namun terkadang, faktanya tak sesuai dengan harapan.
Pernikahan 'zaman now' disebut-sebut rentan perceraian. Bukan sekadar omong kosong, pasalnya setiap tahun tren perceraian di Indonesia meningkat sekitar 15-20 persen, dikutip dari Kompas. Alasan utamanya adalah ketidakharmonisan hubungan rumah tangga. Dan, hal itu dipengaruhi oleh banyak faktor penyusunnya.
Menurut psikolog Ajeng Raviando, M.Psi, hal tersebut sangat dipengaruhi oleh komunikasi yang tidak efektif, mimpi dan fakta pernikahan yang tak sesuai dengan harapan, hingga terlalu banyak mengakses gawai, menjadi batu sandungan dalam pernikahan di era modern ini.
Faktor lain, tambah Ajeng, adalah ekonomi. Di zaman now, terutama pasangan milenial, baik suami maupun istri sama-sama bekerja sehingga mereka tidak takut bercerai karena di pihak istri juga mandiri secara finansial.
Lebih lanjut dia mengungkapkan bahwa sekarang ini ada pergeseran nilai dalam melihat pernikahan. Pernikahan dianggap seperti pacaran. Kalau sudah tidak harmonis dan tidak ada kecocokan lagi, mereka tak takut rumah tangganya bubar.
Padahal, sebuah pernikahan tak sesederhana dongeng yang pasti akan berakhir dengan indah. Agar langgeng, pernikahan membutuhkan kerja keras serta kesabaran dari kedua belah pihak.
"Tantangan pasangan suami istri banyak, tetapi selalu ada solusinya," ujar Ajeng.
Hal itu diamini presenter Soraya Larasati. Menurutnya, setelah menikah selama 6 tahun dan punya 2 anak, dia mengaku masih saja selalu berusaha membangun kemesraan dalam rumah tangganya.
Dia mengatakan jika perhatian kecil juga penting. Tidak cuma soal menyediakan minuman, tapi juga memberi pujian atau hanya sekadar menanyakan kabar saat suami sedang bekerja.
"Terkesan sepele, tapi penting," tandasnya.
Sementar itu, Gary Chapman dalam 'The 5 Love Languages' menyebutkan lima bahasa cinta. Yakni;
1. Ada orang yang mementingkan perilaku positif (afirmasi).
2. Ada yang mementingkan kebersamaan (quality time).
3. Sebagian lebih menyukai hadiah.
4. Ada pula yang senang bila pasangannya meladeni dan membantu.
5. Orang lain menyukai sentuhan dan belaian.
Sebab, semua orang memiliki bahasa cinta yang berbeda. Tugas kitalah untuk mencari tahu, mana bahasa cinta pasangan.
Pernikahan 'zaman now' disebut-sebut rentan perceraian. Bukan sekadar omong kosong, pasalnya setiap tahun tren perceraian di Indonesia meningkat sekitar 15-20 persen, dikutip dari Kompas. Alasan utamanya adalah ketidakharmonisan hubungan rumah tangga. Dan, hal itu dipengaruhi oleh banyak faktor penyusunnya.
Menurut psikolog Ajeng Raviando, M.Psi, hal tersebut sangat dipengaruhi oleh komunikasi yang tidak efektif, mimpi dan fakta pernikahan yang tak sesuai dengan harapan, hingga terlalu banyak mengakses gawai, menjadi batu sandungan dalam pernikahan di era modern ini.
Faktor lain, tambah Ajeng, adalah ekonomi. Di zaman now, terutama pasangan milenial, baik suami maupun istri sama-sama bekerja sehingga mereka tidak takut bercerai karena di pihak istri juga mandiri secara finansial.
Lebih lanjut dia mengungkapkan bahwa sekarang ini ada pergeseran nilai dalam melihat pernikahan. Pernikahan dianggap seperti pacaran. Kalau sudah tidak harmonis dan tidak ada kecocokan lagi, mereka tak takut rumah tangganya bubar.
Padahal, sebuah pernikahan tak sesederhana dongeng yang pasti akan berakhir dengan indah. Agar langgeng, pernikahan membutuhkan kerja keras serta kesabaran dari kedua belah pihak.
"Tantangan pasangan suami istri banyak, tetapi selalu ada solusinya," ujar Ajeng.
Hal itu diamini presenter Soraya Larasati. Menurutnya, setelah menikah selama 6 tahun dan punya 2 anak, dia mengaku masih saja selalu berusaha membangun kemesraan dalam rumah tangganya.
Dia mengatakan jika perhatian kecil juga penting. Tidak cuma soal menyediakan minuman, tapi juga memberi pujian atau hanya sekadar menanyakan kabar saat suami sedang bekerja.
"Terkesan sepele, tapi penting," tandasnya.
Sementar itu, Gary Chapman dalam 'The 5 Love Languages' menyebutkan lima bahasa cinta. Yakni;
1. Ada orang yang mementingkan perilaku positif (afirmasi).
2. Ada yang mementingkan kebersamaan (quality time).
3. Sebagian lebih menyukai hadiah.
4. Ada pula yang senang bila pasangannya meladeni dan membantu.
5. Orang lain menyukai sentuhan dan belaian.
Sebab, semua orang memiliki bahasa cinta yang berbeda. Tugas kitalah untuk mencari tahu, mana bahasa cinta pasangan.


Comments